Kategori Berita

Informasi

Seragam Istimewa Dari Sebuah Gang di Jatiasih

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jumat, 1 April 2022, Agung Puspito terlihat sibuk di sebuah kontrakan dua petak di bilangan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat. Pria muda dengan umur baru menapaki 37 tahun itu tampak serius menyupervisi beberapa tim penjahitnya yang sedang mengerjakan satu paket seragam sekolah. Sesekali dia mengarahkan metoda pemotongan kain agar tak ada bagian kain yang terpotong sia-sia.

 

Sejurus kemudian, dia juga terlihat cekatan membimbing sejumlah ibu-ibu paruh baya yang ditugaskan untuk menyetrika seragam-seragam lainnya di pojok ruangan tersebut. Setelah disetrika, Agung ikut membantu ibu-ibu itu untuk memasukkan seragam siap kirim ke dalam plastik kemasan berwarna bening. Beberapa tumpukan seragam terlihat menggunung di bagian lain ruangan tersebut.

 

“Alhamdulillah, ordernya lagi lancar aja,” tukas Agung sembari sumringah.

 

Akhir-akhir ini Agung mengakui jika tensi bisnisnya mengalami peningkatan yang signifikan. Setiap bulan, dirinya menerima berbagai orderan baik dari sekolah, rumah sakit, perkantoran, hingga sejumlah perusahaan industri skala besar.

 

“Kemarin Yamaha nawarin bikin baju bengkel. PO (Purchase order-Red) udah masuk. Angka produksinya lumayan, tapi masih ditimbang mengingat cost produksinya juga lumayan besar,” demikian katanya.

 

Dari sektor industri skala besar, Agung sering menerima oderan seragam perusahaan baik berupa kemeja perusahaan, setelan seragam lapangan perusahaan, wearpack proyek,  hingga jaket gathering. Akan tetapi, permintaan seragam dari sektor industri bukanlah pekerjaan yang mudah.

 

Mereka memang menjamin adanya sustainability orderan mengingat kebutuhan seragam mereka yang berkelanjutan. Hanya saja, angka pembayarannya tidak sebesar orderan dari sektor yang lain. Waktu pembayarannya juga terbilang sedikit lebih lama.

 

“Kalau modalnya kecil, seringkali saya nggak berani. Kecuali ada mitra yang mau bantu cover pembiayaan sekitar 1-3 bulan. Pembayarannya sih lancar, Cuma sedikit lebih lama aja terminnya,” pungkas pria berdarah Jawa ini.

 

Beda halnya dengan orderan dari sektor sekolah, rumah sakit, atau perkantoran. Jenis orderan dari tiga sektor ini dinilai lebih menguntungkannya. Lumrahnya dari pihak rumah sakit dipesan jenis seragam jaga, jubah operasi, alas untuk operasi, baju pasien, kimono pasien. Sementara dari sektor sekolah, dirinya tak hanya menerima orderan seragam dari sekolah umum. Agung juga menerima oderan dari sekolah kejuruan.

 

“Bahkan ada sekolah yang mesan seragam atlit, jersey, kaos olahraga, sampai almamater. Semuanya diambil,” katanya.

 

“Harganya bagus, pembayarannya juga cepat, sebanyak apapun, nggak mungkin ditolak donk,” tukasnya tertawa lebar.

 

Pun demikian, Agung memberi penegasan, namanya bisnis tak selamanya lancar. Sejak 2017 ketika dia terjun dalam dunia konveksi dan perseragaman, perjalanan bisnisnya tak bisa dibilang lancar-lancar saja. Adakalanya ketika menerima orderan yang pembayarannya jauh meleset dari jadwal, Agung harus berpikir keras untuk menuntaskan pembayaran bahan dan upah karyawan yang dua komponen tersebut tak bisa ditunda sama sekali.

 

Saat ini Agung memiliki 9 karyawan yang menggantungkan hajat pada bisnis konveksi yang dikelolanya. Dari 9 karyawan tersebut, 6 diantaranya merupakan penjahit, 1 orang adalah pembentuk pola jahitan, 1 orang bagian finishing, dan 1 orang bagian umum. Bagian umum itu sendiri menangani urusan pengiriman barang, belanja bahan, dan lain sebagainya.

 

“Jadi hak karyawan ini memang nggak bisa ditunda. Kalau meleset pembayaran, ya harus nyari solusi. Dan sifatnya harus hari ini, ga bisa besok-besok. Dibilang pusing, iya sih. Tapi mana ada bisnis yang anteng-anteng aja,” tandas Agung sembari menyeruput kopi hitam berlabel Robusta Gayo Aceh.

 

Lalu berapa gaji mereka,” Ya bervariasi. Karena menggunakan sistem borong. Rata-rata perbulan Rp 2-8 juta per orang,” jelasnya.

 

Sebagai pelaku UMKM, konon lagi di era digital, Agung terbilang pelaku usaha yang melek internet. Selama ini Agung tak hanya berharap orderan datang ke tempatnya. Ia turut memanfaatkan berbagai platform digital untuk berjualan. Dia juga turut mempromosikan produk-produk konveksinya di seumlah e-commerce raksasa di tanah air.

 

Dari agresifitasnya itu, dampak yang diperolehnya sangat signifikan. Dia pernah menerima orderan seragam dari berbagai daerah di Indonesia. Padahal, tak banyak yang dikenalnya secara langsung.

 

“Dampak penjualan secara online itu sekitar 30 persen loh. Sangat signifikan. 40 persen masih bersifat offline, itu referensi kerabat dan teman,” kata Agung.

 

Dari sektor online, total omset kotornya mencapai 30-45 juta per bulan. Sementara dari pemesan offline, potensi gross profitnya antaranya 50-120 jutaan per bulan. Selain itu, pihaknya turut menikmati hasil harian dari jasa permak pakaian di lingkungan sekitar. “Jasa permak itu cukup buat tips karyawan,” tuturnya.

 

Agung memang menunjukkan diri sebagai pelaku usaha yang optimis. Bahkan saat dunia dilanda Pandemi Covid-19 dan Indonesia mau tidak mau harus menerima dampaknya yang berkepanjangan, di awal periode infeksi covid-19 sekitar April 2020, Agung tak gusar berlebihan. Bahkan dengan agresif memanfaatkan urgensi sektor medis. Dia tak hanya menerima orderan seragam para tenaga kesehatan (Nakes). Dia turut memproduksi beberapa Alat Pelindung Diri (APD) seperti baju hazmat dan masker berbahan kain.

 

Kedepan, dia sadar betul dunia UMKM akan terus mengalami dinamika yang luar biasa. Apalagi melihat instabilitas secara global terus terganggu. Konflik Amerika-China, Rusia-Ukraina, hingga perselisihan politik dalam negeri nyatanya justru memberikan efek negatif bagi dunia usaha. Konon lagi baru-baru ini, Pemerintah Indonesia terlihat kalang-kabut mengontrol kenaikan beberapa item harga bahan pokok.

 

“Mana BBM naik lagi. Setelah pertamax, saya dengar, pertalite juga bakal naik. Tarif listrik juga. Elpiji juga. Semua itu pasti berdampak terhadap dunia usaha,” tukas Agung yang tak lain mengelola konveksi tersebut dibawah bendera PT Heiken Sandang Sejahtera.

 

Di lain sisi, kondisi daya beli masyarakat belum kunjung lebih baik. Setelah dihantam pandemi berkepanjangan, apalagi setelah didera kenaikan harga bahan pokok, kekhawatirannya dirinya terbilang besar. Diapun tak berharap banyak kepada pemerintah kecuali hanya menginginkan stabilitas yang kuat di seluruh sektor.

 

“Semoga aja GARPU benar-benar mampu memosisikan diri sebagai perpanjangan tangan para pelaku UMKM di Indonesia. Perlu disuarakan kepada pemerintah agar mampu menjaga stabilitas dalam negeri. Tak hanya keamanan, namun juga stabilitas ekonomi. Kalau stabil, kita minjam-minjam duit pun masih bisalah,” katanya menutup pembicaraan. []

 

Catatan: Laporan news feature ini telah tayang dalam Buletin DPP GARPU edisi ke-2 periode April-Mei 2022

Penulis: Yuli Rahmad

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Terkait

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kolom

Suara Pembaca

Kirimkan tanggapan dan komentar Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik dan keluhan konsumen.

Kategori Berita