Kategori Berita

Informasi

Home Kolom

Memahami Pidato Surya Paloh Pada Puncak HUT Nasdem ke-11

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Hajatan hari ulang tahun ke 11 partai Nasdem pada saat ini berbeda dengan acara tahun kemaren yang dibuat di Nasdem Tower. Rangkain acaranya tahun ini sangat meriah, ramai gegap gempita diramaikan juga dengan para pedagang UMKM kader Nasdem yang diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai daerah Indonesia. Hajatan ulang tahun ini bertema Nasdem UMKM Trade Show (NUTS), HUT ke-11 Partai Nasdem  dari tanggal 9-11 November 2022 dan tanpa dipungut biaya apapun alias digratiskan bagi pengunjung umum.

 

Selain faktor even, bagaimanapun pidato Surya Paloh merupakan sisi lainnya yang tentunya menjadi istimewa bagi pada kader Nasdem. Di sisi lainnya, publik juga demikian. Pidato Surya Paloh yang berapi-api selalu sarat makna dan menjadi dialektika panjang di berbagai medium nyata hingga media sosial.

 

Diantaranya, Ketum Surya Paloh menyikapi berita simpang siur di media sosial berbagai berita negatif sejak mendeklarasikan Anies Rasyid Baswedan sebagai calon presiden  partai Nasdem tahun 2024. Posisi Nasdem ibarat seorang berada di kursi pesakitan. Berbagai macam tuduhan dan fitnah tertuju kepadanya hingga tentang hubungannya tidak harmonis lagi dengan Jokowi seolah-olah mengalami keretakan sebagai bukti batal nya penentuan hari deklarasi bahkan kualisi diributkan.Fitnah, hoax dan pelacur -pelacur intelektual menghantam Nasdem , namun sikap Nasdem dibawah komando Surya Paloh tetap dihadapi dengan penuh bijak dan tegar diibaratkan sebuah kapal di tengah lautan diterjang ombak dan angin yang keras tetap kondisi kapal berlayar tetap teguh berdiri dan  tidak tenggelam.

 

Sikap kami kader- kader Nasdem seperti kata hikmah ,”Anjing menggonggong, kafilah berlalu”. Yakni membiarkan orang lain berbicara, mencemooh atau mempergunjingkan Partai Nasdem. Tetapi menghiraukanya begitu saja, membiarkan saja. Tidak dimasukkan ke hati tetap dengan pendiriannya sebagai partai yang hendak mewujudkan nilai-nilai kemulyaan dan kejujuran bukan sekedar lip servis karena itu kebohongan yang bertentangan dengan norma etika dan agama.Ya Nasdem Tetap Nasdem.

 

Lip Service merupakan sebuah tindakan mengumbar janji yang tidak sesuai dengan realitanya.Islam menanggapi hal tersebut  sebagai sifat munafik, karena salah satu dari sifat kemunafikan yaitu ketika ia berjanji ia ingkar.Janji bukanlah masalah yang ringan atau sepele. Janji merupakan masalah besar yang berpengaruh bagi kebaikan di dunia maupun di akhirat. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 34)

 

Pada suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar seorang ayah berkata kepada anak-anaknya “Aku akan memberikan sesuatu kepadamu”. Nabi Muhammad bersabda kepadanya “Apakah kamu berniat akan memberinya?” Dia berkata, “Tidak”. “Engkau harus memberinya atau berkata benar. Sesungguhnya Allah melarang berbuat dusta,” ucap Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, apakah ini termasuk dusta?” tanya laki-laki tersebut. Rasulullah kembali bersabda, “Sesungguhnya segala sesuatu itu dituliskan. Dusta dituliskan dusta dan dusta kecil (sedikit) ditulis dusta kecil.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Dunya)

 

Seorang yang beretika diharuskan untuk menghindari perilaku mengumbar janji (lip servis) dan berbohong sekecil apapun karena janji merupakan utang yang harus dipenuhi. Politik dan kebohongan seperti memiliki hubungan yang tidak bisa di pisahkan namun hubungan itu bukan selalu dilakukan pada setiap kondisi, karena kesannya setiap politikus bisa semena-mena berbohong hal ini berdampak buruk bagi politisi. Dalam tulisannya  Truth and Politics , Arendt lebih lugas memaparkannya. Tulisannya, “Tidak ada yang meragukan bahwa kebenaran dan politik memiliki hubungan yang agak buruk satu sama lain.”

 

Lanjutnya, “Kebohongan selalu dianggap sebagai alat penting dan pembelaan, tidak hanya untuk politisi dan demagog, melainkan juga sebagai keahlian seorang negarawan.” Seolah-olah kebenaran adalah tempat mereka yang terpinggirkan.Meski terdengar tidak bermoral, dalam buku  Republic , Plato (Platon) uniknya memberikan justifikasi moral atas penekanan tersebut.Keputusan Hukum yang menjurus kepada keadilan kemudian diputuskan berpihak kepada pihak terpidana merupakan keadilan itulah yang dimaksud Plato kebohongan yang mulia.

 

Pertanyaannya, mungkinkah penguasa  dengan lantang menyebut keadilan itu hanyalah utopia? Sulit membayangkan itu dilakukan. Imbasnya besar, itu dapat menghancurkan kepercayaan terhadap hukum, rakyat menjadi anarkis, dan kohesi sosial dapat terpecah.

 

Bung Hatta menyebutkan Lip Servis itu bertentangan dengan Nilai-Nilai Pancasila terutam sila pertama BerkeTuhanan Yang Maha Esa.Proklamator Kemerdekaan Indonesia Mohammad Hatta menerbitkan sebuah buku kecil (hanya 16 halaman), berjudul “Pancasila Jalan Lurus” (Bandung: Angkasa, 1966, Ejaan disesuaikan dengan EBI).

 

Dalam bukunya itu, Mohammad Hatta (Bung Hatta) mengajak bangsa Indonesia agar jangan mempermainkan Pancasila, dan hanya menggunakan Pancasila sebagai “lip service”

 

Lip service itu dalam bahasa Inggris diartikan sebagai satu bentuk kemunafikan (hypocrisy): “an expression of agreement that is not supported by real conviction.” Yakni, satu bentuk persetujuan di mulut saja, tanpa diikuti dengan keyakinan.  Begini kata beliau. “Pengakuan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam artinya, tidak dapat dipermain-mainkan. Tidak saja berdosa, sebagai manusia kita menjadi makhluk yang hina, apabila kita mengakui dengan mulut, dasar yang begitu tinggi dan suci, tetapi di hati tidak dan diingkari dengan perbuatan”. Menurut Bung Hatta, Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lagi hanya hormat menghormati agama masing-masing, melainkan menjadi dasar yang memimpin ke jalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran dan persaudaraan.

 

Dengan dasar ini sebagai pimpinan dan pegangan dalam kesatuan Pancasila, pemerintahan negara pada hekekatnya tidak boleh menyimpang dari jalan yang lurus untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan keselamatan masyarakat, perdamaian dunia yang abadi serta persaudaraan bangsa-bangsa,” demikian tegas Bung Hatta.

 

Lip Servis identik dengan kebohongan dan kejujuran (ash shidqu) sangat identik dengan kebenaran.Kata jujur yang dapat di definisikan sebagai sebuah tindakan maupun ucapan yang lurus, tidak berbohong dan tidak curang.Jujur ialah merupakan salah satu nilai yang paling utama, karena tanpa kejujuran seseorang tidak akan mendapat kepercayaan dalam berbagai hal, termasuk dalam kehidupan sosial. Surya Paloh menyikapi bahwa  kejujuran sangat penting dan dapat diwujudkan dalam bentuk tidak melakukan kecurangan dalam berpartai. Lebih luas, contoh kejujuran secara umum dimasyarakat ialah dengan selalu berkata jujur, jujur dalam menunaikan tugas dan kewajiban sebagai kader-kader Nasdem.

 

Kejujuran yang diucapkan oleh Surya Paloh pada sambutan ultah ke 11 Nasdem dengan maksud selain itu, secara umum bahwa partai Nasdem hendak mewujudkan kepedulian terhadap sesama seperti dengan turut membantu kepentingan sosial, negara dan bangsa.

 

Perbedaan Menguatkan Kebangsaan

 

Surya Paloh menekankan bahwa perbedaan diantara kita bukan menciptakan permusuhan bahkan meningkatkan untuk menguatkan semangat persaudaraan, bagi yang belum mampu menerima perbedaan itu hendaklah harus belajar dari kudrat kita sebagai makhaluk Tuhan Yang Maha Esa. Keberagaman jangan menjadi pintu masuk untuk menciptakan permusuhan di Tanah Air. Untuk itu penting bagi masyarakat untuk menguatkan kembali semangat persaudaraan kebangsaan dengan keberagaman yang dimiliki.

 

“Sekarang bagaimana caranya supaya perbedaan itu menjadi kekuatan, menjadi sebuah persaudaraan. Kuncinya sederhana, bagaimana kita membangun persaudaraan dari sebuah perbedaan”. Allah Swt Maha Pencipta Alam Semesta ini menciptakan manusia sudah saling berbeda satu sama lain, namun perbedaan itu bukan menciptakan permusuhan akan tetapi saling mengisi kekurangan untuk menjadi sempurna dan mempercerdas pola pikir kita.

 

Sekarang bagaimana caranya supaya perbedaan itu menjadi kekuatan, menjadi sebuah persaudaraan. Kuncinya sederhana, bagaimana kita membangun persaudaraan dari sebuah perbedaan,” menyikapi perbedaan dengan mengambil nilai-nilai positif mengesampingkan hal-hal negatif. “Begitu kita mulai mengangkat kelemahan dalam perbedaan, maka di situlah awal dari sebuah disintegrasi atau perpecahan. Untuk itu ambil hal-hal yang positif dalam sebuah perbedaan”.

 

Selama ini masyarakat seolah-olah seperti lupa dengan apa yang diperbuat para pendahulu bangsa yang mana terdiri dari berbagai suku, agama, ras untuk menyatukan bangsa. Menurutnya, faktor-faktor yang bisa menimbulkan perpecahan seperti saling menghina dan sebagainya harus dihindari. Selain itu teladan kepemimpinan dari tokoh-tokoh masyarakat juga harus diperhatikan dengan seksama “Tokoh-tokoh seperti ulama, tokoh masyarakat itu harus menjadi teladan dalam membangun kebersamaan dalam perbedaan. Jangan sampai justru tokoh-tokoh di masyarakat ini menjadi ‘kompor’ untuk memecah belah,” kata Politikus NasDem itu.

 

Kita harus menyadari sebagai warga negara Indonesia menjaga agar tidak memperuncing perbedaan negatif yang akan menimbulkan konflik perpecahan, kita ini negara dengan suku-suku, kebhinekaan yang paling besar di dunia berbeda dengan negara di dunia. Wajib kita ketahui seperti negara konflik seperti  Afghanistan itu hanya memiliki empat suku, Pakistan, India itu hanya memiliki berapa suku? Sementara negara Indonesia ribuan suku. Sebagai anugerah ilahi dan faktanya kita bisa bersatu karena berpegang teguh kepada pancasila”.

 

Maraknya hoaks,buzzer Rp dan ujaran kebencian berkembang subur melalui media sosial (medsos). Anjuran khusus kepada generasi muda (milenial) bisa ikut berperan dalam mengkampanyekan bahwa perbedaan yang dimiliki bangsa bisa menjadi alat untuk menguatkan identitas.

 

Sebenarnya generasi milenial wajib ikut serta mengkampanyekan tentang semangat persaudaraan, persatuan dalam kebhinekaan di media-media sosial bahwa kita ini satu, bangsa Indonesia. Walaupun suku kita sekian ribu, agama kita berbeda, bahasa kita berbeda, tapi kita tetap Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.

 

Namun, belakangan ini Indonesia kerap mengalami krisis toleransi. Perbedaan yang ada justru menimbulkan perpecahan. Padahal, perbedaan itu sendirilah yang seharusnya membuat Indonesia menjadi indah karena lebih “berwarna”.

Sebagai warga negara yang baik, kita harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan dengan menganut paham toleransi. Jangan sampai Indonesia terpecah-belah akibat isu-isu negatif. Ingat kata pepatah, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Pentingnya menjaga toleransi di dalam keberagaman Meskipun Indonesia adalah negara yang kaya akan perbedaan dan keberagaman, hal tersebut membuat Indonesia rentan

 

terpecah-belah akibat perbedaan yang ada. Perpecahan di masyarakat bisa memicu konflik yang menimbulkan kerugian banyak pihak. []

 

*Penulis merupakan Anggota Dewan Pakar DPP Partai Nasdem sekaligus Dewan Penasehat DPP GARPU

Penulis: Habib Dr Mohsen Hasan Alhinduan Lc MA

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Terkait

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kolom

Suara Pembaca

Kirimkan tanggapan dan komentar Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik dan keluhan konsumen.

Kategori Berita