Kategori Berita

Informasi

Home Kolom

Kedewasaan Berpolitik Yang Sehat Ala Surya Dharma Paloh

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Sejak awal berdirinya, Partai  NasDem tetap konsisten mengemban misi besar semangat gerakan perubahan restorasi Indonesia. Misi besar tersebut dapat diwujudkan dengan iklim politik yang sehat. Iklim politik yang sehat yaitu iklim yang saling membangun. Iklim ini tidak menguras emosi bangsa dengan isu-isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), hoaks, dan hal sensitif lain.

 

Tingkat kesadaran dari semua pihak harus merestorasi dengan kedewasaan berpolitik secara sehat, karena akan memunculkan sosok pemimpin yang sehat. Mengamati orasi ilmiah Surya Dharma Paloh dalam acara Pemberian Gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dalam Bidang Sosiologi Pada Fakultas FISIP Politik Universitas Brawijaya, 25 Juli 2022 lalu di kota Malang, dengan topik “Meneguhkan Kembali Politik Kebangsaan”. Inti orasi ilmiah dan politik yang disampaikan oleh Surya Dharma Paloh adalah politik yang mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

 

Beliau bermaksud kita sebagai politikus memperkenalkan pendidikan politik untuk diterapkan agar setiap warga memahami kewajiban dan haknya sebagai warga negara  Indonesia. Persepsi dan penafsiran dari kalangan pengamat dan tokoh-tokoh politik terhadap orasi Surya Dharma Paloh sangat jauh dari maksud dan tujuannya, bahkan menimbulkan kegaduhan. Hampir semuanya menafsirkan ke arah yang berada diluar koridor inti orasi itu sendiri.

 

Surya Dharma Paloh memahami benar bahwa masyarakat kita memandang politik sebagai jalan untuk meraih kuasa dengan menghalalkan segala cara. Politik sebagai sarana pengaturan urusan masyarakat dalam segala aspek kehidupan. Pemerintah mengatur dan melayani urusan masyarakat dan masyarakat melakukan koreksi terhadap pemerintah dalam melaksanakan tugas dan pelayanan.

 

Praktik politik semestinya berorientasi untuk memberikan kesejukan, keamanan, perdamaian dan perlindungan kepada semua kalangan masyarakat, terutama bagi kelompok yang lemah serta sarana menegakkan kebenaran dan keadilan. Narasi seperti ini hendaknya bukan cuma jargon tapi harus diterjemahkan dalam praktik dan kebijakan yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Pada umumnya menurut pandangan Surya Dharma Paloh, semuanya itu bergantung kepada aktor politik yang memainkan peran dalam perhelatan demokrasi. Baik buruknya politik di mata masyarakat dipengaruhi oleh perilaku politisi dalam membela kepentingan rakyat. Untuk itu dibutuhkan peneguhan dan kebiasaan berpolitik secara sehat dengan dilandaskan kejujuran dan keterbukaan.

 

Timbulnya politik uang, disetiap pemilihan kepala daerah hingga pilpres, karena masyarakat tidak yakin dengan janji yang ditawarkan, maka keuntungan (benefit) harus diperoleh sebelum dilaksanakan pemilihan. Meminjam ungkapan populer di masyarakat tentang bedanya Pil KB dan Pilkada, katanya pil KB kalau lupa jadi. Sedangkan Pilkada kalau jadi lupa. Sebuah sindiran yang menggambarkan realitas sebenarnya. Publik memandang bahwa politik sebagai jalan untuk meraih kuasa dengan menghalalkan segala cara.

 

Surya Dharma Paloh politikus sejati dan berjiwa negarawan berusaha membangun politik yang sehat dan mengembalikan kepercayaan publik melalui keteladanan para pemimpin dan wakil rakyat. Mereka yang mendapat amanat dituntut untuk ikhlas mengabdi kepada masyarakat bukan malah memperkaya diri dengan korupsi.

 

Kesadaran bahwa kekuasaan dan jabatan yang diraih berasal dari suara rakyat diharapkan dapat membentengi politisi dari tindakan semena-mena. Orasi ilmiah beliau cukup jelas dan gamblang menunjukkan sikapnya sebagai seorang yang mengajak para politikus saling bahu membahu, tidak menjagokan dirinya dari yang lain, saling menghargai, fokus membangun negeri ini dan tidak menimbulkan perpecahan diantara kita menggunakan politik identitas dan polarisasi yang berakibat buruk bagi keamanan dan ketentraman bagi masyarakat Indonesia. Sikap para pengamat dan tokoh politik sekedar memberi pernyataan-pernyataan dan persepsi yang tidak menguntungkan masyarakat umum, bahkan tidak mendidik, sebaliknya menciptakan suasana yang tidak menyejukkan.

 

Surya Dharma Paloh, menurut kami tetap teguh dan piawai menghadapi kegaduhan media massa dan televisi Panggung politik yang sering diwarnai kegaduhan menimbulkan kegamangan di tengah masyarakat. Apakah partisipasi politik yang telah dilaksanakan dalam pemilu mampu mendatangkan manfaat di kehidupan sehari-hari. Hendaknya para politisi berlomba mencari solusi guna mengatasi kesulitan rakyat, bukan justru sebagai trouble maker yang menyusahkan masyarakat. Politisi yang mampu menjadi problem solver harus berpikir positif, mengidentifikasi serta  evaluasi masalah, melakukan brainstorming dimana timnya akan berusaha untuk menyelesaikan suatu masalah dengan menemukan ide-ide baru.

 

Kesimpulannya, orasi Surya Dharma Paloh yang disampaikan pada acara Anugerah Gelar Doktor (honoris causa) adalah orasi ilmiah bersifat akademis dan semua pihak harus melihat teks dan konteksnya secara utuh, sangat disayangkan jika ada pihak yang merespons secara sepihak tanpa memahami konteksnya.

 

Surya Dharma Paloh menyampaikan orasi ilmiah dalam konteks dan forum ilmiah penganugrahan gelar Doktor kehormatan oleh fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Brawijaya, Malang. Paloh Menekankan, agar kita membangun pola kedewasaan berpolitik yang sehat, sikap saling memahami, sikap menjunjung tinggi toleransi sehingga masyarakat tidak mudah terpancing isu-isu SARA yang mengancam persatuan bangsa. Sebagai negara yang majemuk, rakyat Indonesia harus sadar bahwa negara ini milik kita dan harus kita jaga.

 

Oleh karena itu, menjaga kedamaian dalam pilkada menjadi bagian penting dari proses demokrasi Indonesia. Beliau menyinggung pemilu sudah dekat dihadapan kita 2024, harus dijaga dengan sebaik-baiknya, mulai dari proses kampanye, masa pemilihan, sampai pada masa penetapan, maupun pengujian hasil perhitungan suara. Semua harus kita kawal bersama. Semua itu karena kita menginginkan pemilihan yang damai dan indah. Oleh karena itu, kita harus lebih mengedepankan kepentingan bersama dibandingkan dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Semua demi Tanah Air kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Lihat saja, sikap Presiden Jokowi dan mantan rivalnya, Prabowo Subianto serta Sandiaga Uno telah menunjukkan kepada kita arti sebuah kedewasaan berpolitik. Persaingan dalam berebut kursi kekuasaan, itu hal yang biasa terjadi. Namun, harus dibarengi dengan sikap legowo. Baik Jokowi maupun Prabowo dan Sandiaga Uno menunjukkan kedewasaan berpolitik yang sangat indah.

 

Menurut pola pikir Surya Dharma Paloh bahwa politik itu, bukan dunia yang katanya penuh tipu-tipu itu, tapi memang dunia tempat kekuasaan diperebutkan. Jadi jangan heran kalau para politisi itu, omongannya tidak jauh dari pemilu,  pilpres ataupun pilkada dan perebutan kekuasaan itu bukan aib. Perebutan kekuasaan itu bukan bentuk kerakusan. Perebutan kekuasaan itu, justru perlombaan dalam kebaikan, perdamaian, dan kontribusi, bukan ajang pertikaian, perpecahan bahkan permusuhan.

 

Sebagai sebuah negara demokrasi, pemilu adalah ajang perebutan kekuasaan. Sebagai perwujudan dari kaidah bahwa kekuasaan itu berasal dari dan oleh rakyat, perebutan kekuasaan itu menjadi sebuah penanda bahwa demokrasi di negara kita telah berjalan. Akan tetapi perebutan kekuasaan itu harus dilakukan melalui mekanisme pemilu. Semuanya harus dilakukan dalam rangka untuk kebaikan bagi suatu bangsa dan negara. Karena kekuasaan itu adalah dari dan oleh rakyat, maka ia harus digunakan untuk keadilan dan kemakmuran rakyatnya.

 

Jadi, siapa pun yang menang dalam perebutan kekuasaan tersebut seharusnya tidak jadi persoalan, karena tujuan akhirnya tetap sama, yaitu untuk keadilan dan kemakmuran suatu bangsa. Kekalahan dalam kontestasi politik, harus disikapi dengan wajar, objektif dan rasional. Mindset dan sikap berpikir seperti ini yang harus dimiliki oleh seorang politisi terutama kader Nasdem. Atau oleh siapa pun yang melakukan aktivitas politik, baik sebagai elit maupun sebagai massa. Yaitu kedewasaan dalam berpolitik yang sehat, mampu menyikapi kekalahan dengan arif. []

 

*Penulis merupakan Dewan Pakar DPP Partai Nasdem dan Wakil Ketua Dewan Penasehat DPP GARPU

Penulis: Habib Dr Mohsen Hasan Alhinduan Lc MA

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Terkait

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kolom

Suara Pembaca

Kirimkan tanggapan dan komentar Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik dan keluhan konsumen.

Kategori Berita