Kategori Berita

Informasi

Home Kolom

Elitisme Kader Partai Politik dan Waham Delusion Of Grandeur

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Ternyata, fenomena elitisme merupakan masalah sosial yang begitu susah diperangi. Semua orang tau betapa elitisme bukanlah perilaku yang konstruktif karena naluri elitisme manusia begitu tinggi dan buas. Dalam pergaulan sehari-hari, fenomena elitisme paling kecil bisa diamati di domain yang kecil. Entah itu antar keluarga sendiri, tetangga, hingga di segmen teman seperkantoran. Pada akhirnya, elitisme tersebut merusak harmonisasi keluarga, lingkungan, dan pekerjaan.

 

Di tatanan yang lebih besar, politik dan pemerintah tentulah menjadi domain utama para antagonis menyuguhkan perilaku elitisme. Anthony Harold Birch, salah satu Pakar Perbandingan Politik yang menulis berbagai buku seperti Concepts and Theories of Modern Democracy, Nationalism and National Integration, dan beberapa buku berkonten politik lainnya memandang elitisme sebagai kondisi dimana masyarakat umum hidup dan diperintah sebagaimana aturan yang dibuat oleh segelintir kaum elit. Kalangan elit didefinisikan sebagai unsur minoritas masyarakat dengan komunitas yang relatif kohesif dan stabil secara keuangan dengan kekuasaan yang cenderung disproporsional dan subjektif.

 

Dalam studi sosiologis, elitisme adalah personal-personal yang memegang kekuasaan baik resmi maupun tidak dan menjadi penentu kelas sosial di antara segmen masyarakat yang ada. Dengan power tersebut, para elit masyarakat ini yang kuantitasnya hanya minoritas semata justru dapat mengatur, memberi perintah, hingga menciptakan kesenjangan-kesenjangan yang membuka konflik-konflik horizontal di tengah-tengah masyarakat.

 

Sementara itu, Delusion Of Grandeur merupakan sebuah kondisi over confidence yang merasa diri pribadinya jauh lebih hebat dari orang lain. Karena itu ringkasnya Delusion Of Grandeur disebut sebagai waham kebesaran. Segmen masyarakat yang kategorinya juga minoritas ini selalu berasumsi orang lain kecil, dirinya besar. Dirinya besar, bisa mengatur segala hal, bahkan tak soal jika harus mengorbankan orang lain.

 

Mungkin beberapa orang lebih mengenal istilah Megalomania. Dalam sejarah kejiwaan, Ilmuan Prancis Jean Étienne Dominique Esquirol menyebutnya sebagai Monomania yang diterjemahkan sebagai gangguan paranoid yang kecondongannya berupa pengagungan diri sendiri secara berlebihan.

 

Delusion Of Grandeur (Waham Kebesaran) atau Megalomania tak bisa serta merta diasumsikan sebagai penyakit kejiwaan. Lebih jelasnya, hanya psikiater yang bisa memberikan vonis tersebut. Namun elitisme dan Delusion Of Grandeur saya kira erat kaitannya. Paham elitisme tidak saja berkembang karena kondisi peningkatan kemapanan seseorang. Melainkan elitisme justru bertumbuh dengan subur jika selalu dipupuk oleh perilaku Delusion Of Grandeur yang merasa paling hebat.

 

Partai Politik Sebagai Sekolah Moral

 

Tentu saja ada banyak medium yang bisa dioptimalkan untuk mengikis perilaku elitisme dan Delusion Of Grandeur (Waham Kebesaran). Sebagai negara yang berbudaya dan beragama, Indonesia memiliki berbagai perangkat adat dan agama yang diharapkan benar-benar mampu mengontrol kondusifitas sosial masyarakat. Kesadaran tersebut harus menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat dengan harapan generasi-generasi kedepan dapat terbebas dari ancaman perilaku elitisme dan Delusion Of Grandeur (Waham Kebesaran).

 

Sebagai salah satu pelaku politik, peranan partai politik dalam membangun pribadi yang objektif dan rendah hati tentulah sangat besar. Saya meyakini, tokoh-tokoh bangsa yang mendirikan organisasi politik sebagai medium aspirator masyarakat mengharapkan adanya kemaslahatan bersama secara universal. Para pendiri partai politik tentu saja berharap semua komponen warga memiliki kedudukan yang sama. Perbedaannya hanya pada tatanan fungsi dan tanggungjawab saja.

 

Nyatanya, perilaku elistisme dan Delusion Of Grandeur (Waham Kebesaran) di lingkungan partai politik juga masih sangat kental. Hal itu dipicu oleh karakter-karakter kader karbitan yang tidak memiliki integritas dan nurani yang ideal. Partai politik acap kali hanya dijadikan alat dan kendaraan untuk mencapai kedudukan atau jabatan baik dalam ruang legislatif dan eksekutif. Dengan mencapai jabatan dan kedudukan yang diinginkan, mereka pun merasa sudah naik kelas dari kader biasa lalu menjadi elit partai.

 

Pada dasarnya, saya mengklafisikan dua jenis fenomena elitisme dan Delusion Of Grandeur (Waham Kebesaran) dalam dunia kepartaian. Yang pertama yakni elitisme dan waham kebesaran dalam pola pikir. Kalangan ini merasa besar dan elit karena masuk ke partai dalam kondisi mapan keuangan. Dengan modal kemapanan keuangan yang dimilikinya, dia merasa bisa dan perlu mengatur partai secara berlebihan, justru cenderung subjektif.

 

Fenomena yang kedua yakni elitisme dan waham kebesaran dalam gaya hidup. Domain ini cenderung ditunjukkan oleh kalangan kader partai yang baru mendapatkan promosi jabatan publik. Mereka mengalami Sudden Wealth Syndrome, yaitu sindrom tiba-tiba kaya. Kader-kader yang demikian mengalami goncangan perilaku sehingga memosisikan diri sebagai elit partai dengan kelakuan yang destruktif.

 

Jelas saja dua fenomena tersebut adalah masalah besar. Kehadiran personal-personal tersebut dalam tubuh partai jelas saja membuka ruang kesenjangan antar para kader. Kesenjangan tersebut juga berpotensi menutup ruang aspirasi publik karena adanya kemungkinan sumbatan komunikasi antar stakeholder. Jika ini dibiarkan, saya mengkhawatirkan pembangunan bangsa ini tidak berorientasi lagi pada kepentingan seluruh elemen masyarakat, melainkan hanya pada domain elit semata.

 

Untuk itu, mendorong partai politik sebagai sekolah moral adalah salah satu upaya konkrit sehingga mata rantai elitisme dan Delusion Of Grandeur (Waham Kebesaran) dapat diputuskan. Partai Politik harus menyusun pedoman dan kurikulum rekruitmen kader agar mampu menghasilkan calon pemimpin kedepan yang berkultur kerakyatan.

 

Kurikulum tentu saja tak cukup. Partai politik juga perlu menerapkan skema pendampingan kader agar orang-orang yang oportunis tidak merusak tatanan politik dengan sikap elitisme dan Delusion Of Grandeur (Waham Kebesaran). Dengan demikian, partai politik dapat terus bertransformasi menjadi rumah perubahan bagi semua anak bangsa.

 

*Penulis merupakan Ketua Dewan Pakar DPP Gerakan Restorasi Pedagang dan UMKM (GARPU)

Penulis: Pietra Machreza Paloh

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Advertorial

Berita Terkait

Berita Lainnya

Leave a Comment

Advertorial

Berita Terpopuler

Kolom

Suara Pembaca

Kirimkan tanggapan dan komentar Anda yang berkaitan dengan pelayanan publik dan keluhan konsumen.

Kategori Berita